Logo
Print this page

Antusiasme Murid SD Kecil Pulau Sjahrir Dengarkan Dongeng Sayuran

Antusiasme Murid SD Kecil Pulau Sjahrir Dengarkan Dongeng Sayuran

Sembilan belas murid SD Kecil Pulau Sjahrir semula malu-malu melihat banyak orang berkumpul di depan sekolah mereka. Diajak berkenalan saja, suara mereka kecil sekali. Sampai-sampai penanya harus menyebut ulang nama mereka sebanyak lima kali.

 

 

 

Kekakuan tidak berlangsung lama. Suasana mencair saat Stanley dari Hakaleka mengajak anak-anak mendengar dongeng dari Ariyo (Ayo Dongeng Indonesia) dan Ririn (Bintang Nutricia).

Beralaskan dedaunan kering dari pohon pala dan kenari yang tumbuh subur di kebun samping sekolah, para murid langsung semangat begitu Stanley memancing mereka melalui nyanyian.

"S... S... Satu Sembilan. D... D... Dua dan Delapan. T... T... Tiga dan Tujuh. E... Empat dan Enam. L...L Lima dan Lima. Semua jumlah sepuluh. SS... DD... TT... EE... LL," begitu potongan lirik dari lagu yang mereka dendangkan.

Topik dongeng yang dibawakan Ariyo dan Ririn masih sama seperti yang mereka bawakan di Istana Mini, Pulau Banda Neira. Karena memang tujuan dari dongeng ini guna mengenalkan sayuran dan buah-buahan, serta apa saja manfaat dari kedua jenis makanan sehat itu.

Sebelum cerita dimulai, Ariyo terlebih dulu bertanya apa manfaat buah pala. Terdengar beragam jawaban. Murid kelas 6 mengatakan,"Kulit pala bisa dijadikan kosmetik." Sementara murid-murid kelas 1, 2, dan 3 mengatakan," Ibu di rumah buat kuah asam. Masak pakai ikan."

Dongeng dimulai. Ariyo masih dengan peran yang sama sebagai monyet. "Bukan, itu kera," kata Juwita, murid kelas 1. Mungkin bocah perempuan dengan rambut kepang kuda, monyet dan kera adalah dua satwa yang berbeda.

Monyet yang diperankan Ariyo di dongeng itu sedang memperkenalkan satu per satu teman-teman dia yang berwujud sayuran. Ririn mengambil peran sebagai tomat, terong, dan brokoli.

Untuk tomat dan terong, para murid mudah sekali menebak wujud, rasa, dan biasa dimasak jadi apa.

Mereka mengatakan bahwa tomat yang berwarna merah memiliki rasa yang asam dan biasa dijadikan sayuran. Terong, sayuran lonjong berwarna ungu, biasa dimasak kuah kenari yang sangat lezat oleh ibu mereka.

"Kalau ini apa namanya," kata Ririn bertanya ke murid-murid itu. "Pohoooooooon," kata mereka serempak menjawab pertanyaan perempuan berjilbab.

 

 

Padahal, yang Ririn maksud adalah brokoli. Namun, karena anak-anak ini belum pernah melihat wujud asli dari brokoli, dan properti yang digunakan Ririn lebih mirip pohon, sehingga jawaban untuk sayuran berwarna hijau yang kerap dicampurkan ke dalam masakan capcai disebut pohon.

Maklum, di Pulau Banda, brokoli bukan barang yang mudah ditemukan. Khusus di Pulau Sjahrir, jaringan internet juga bukan keharusan untuk dimiliki. Jangankan jaringan internet, listrik saja cukup susah.

Bahkan, gedung sekolah mereka saja bekas perpustakaan yang baru beroperasi selama dua tahun. Sebelum menggunakan gedung berukuran hanya lima kali delapan meter, anak-anak bersekolah di Solomon. Ke sekolah naik perahu dan harus menuruni 42 anak tangga.

Setelah mendengarkan dongeng, murid-murid diajak menggambar monyet. Dita dari Graphic Recorder Indonesia, Evi seorang pengajar anak jalanan sekolah non formal, dan Ocha yang merupakan guru musik, dengan sabar mengajarkan anak-anak menggambar monyet dalam beberapa tahapan.

Berhubung biji pala dan kenari mulai berjatuhan, tempat menggambar dipindah ke samping sekolah, beralaskan terpal kuning dan oranye.

Dimulai dari menggambar kepala, tubuh, kaki, buntut, sampai buah pisang. Makanan favorit seekor monyet.

"Setengah lingkaran. Ditarik seperti ini," kata Evi mengajarkan bocah laki-laki berbaju kuning yang sedari tadi tidak menggambar apa-apa. Sementara teman-teman yang lain sudah menggambar sampai ke bagian buntut monyet.

"Jangan takut jelek. Semua gambar bagus," kata Evi masih merayu bocah laki-laki itu.

Bukan masalah bagi Evi menghadapi anak-anak disini, karena sudah tiga tahun ia berhadapan dengan anak-anak jalanan. Evi mengatakan, pada dasarnya seorang anak, baik itu anak jalanan maupun anak pedalaman, bisa diatur meski butuh kesabaran. 

"Ya, pada dasarnya juga, mereka punya keinginan untuk bisa. Kita saja yang harus sabar," kata Evi.

Melihat hampir semua murid sudah selesai menggambar, giliran Ocha yang memakaikan anak-anak ini celemek. Gambar itu bakal mereka warnai.

 

 

Ocha mulai memberi instruksi mewarnai monyet yang mereka gambar. Perempuan berjilbab hitam memberitahu bahwa warna monyet tidak selalu cokelat.

"Dimulai dari sini (kepala), badan, sampai tangan. Pelan-pelan saja. Warnanya bebas mau apa saja. Biru, boleh. Kuning, boleh. Warna apa saja boleh," kata Ocha.

 

 

Anak-anak antusias buat mewarnai monyet hasil prakarya diri sendiri. Menurut Salasa, satu-satunya guru di SD Kecil Pulau Sjahrir yang masuk hari ini, semua murid hampir tidak pernah mendapat kegiatan semacam ini.

 

"Makanya tadi mereka rada malu. Karena nggak pernah ada yang seperti ini," kata Salasa di Pulau Sjahrir, Banda, Selasa (29/11/2016).

 

Sumber: Liputan6.com

Develop © Ukon. All Rights Reserved.